OPINI: Tolak Ukur Kebenaran pada Mahasiswa (Kolaborasi antara Rasionalitas dan Mitos)
Dalam filsafat, manusia memiliki tolak ukur dalam melihat
kebenaran, salah satu tolak ukurnya adalah mitos. Seiring bergantinya zaman
manusia berubah, tolak ukur pun berubah, manusia lebih rasional dalam melihat
segala hal, lebih mengedepankan logika dalam berpikir. Namun, bukan berarti
manusia menghilangkan tolak ukur mitos itu sendiri. Sebagian dari mereka juga
masih mempercayai mitos dan segala jenis yang berhubungan dengan mitos. Sesuai
dengan judul tulisan, saya memilih tiga informan kunci yang dianggap masih sangat
mempercayai mitos dan juga informan-informan lain sebagai pendukung.
Dalam
tulisan Long (2010) bagi Aristoteles, pengetahuan akan kebenaran atau Aletheia dapat diperoleh dengan sulit, tetapi
di sisi lain juga mudah. Kesulitan hadir karena manusia tidak mungkin
“menangkap‟ kebenaran secara menyeluruh. Dikatakan mudah karena tidak ada
manusia normal yang tidak mengetahui sesuatu yang benar sifatnya meskipun hanya
sebagian sajaalias parsial. Menurut Long dalam hal ini, Aristoteles optimis
bahwa setiap manusia pasti dapat mengetahui kebenaran, tetapi juga ia bersikap
realistis: manusia tidak akan mengetahui kebenaran secaratotal. Masing-masing
manusia dapat memberi kontribusi satu sama lain, entah sedikit entah banyak,
dalam pencarian kebenaran.
Saya mewawancari beberapa informan, beberapa dari mereka
masih mempercayai mitos tapi ada juga yang sudah tidak percaya tapi masih ikut
mengamini. Dalam hal percaya terhadap mitos ini kami menggolongkan sebagai 3
kategori: percaya, setengah percaya, tidak percaya. Orang yang percaya
menganggap bahwa mitos yang ada dalam masyarakat itu memang ada dan benar-benar
dapat terjadi apabila mengabaikannya. “soalnya aku ya yakin gitu kalau mitos yg
ada di masyarakat emang beneran bisa terjadi, meskipun itu gak bisa dipikir secara
rasional” ujar salah satu informan saya. Mereka percaya bahwa hal-hal yang
berkaitan dengan mitos itu meskipun tidak rasional tapi pasti masih berdampak
dalam hidupnya apabila melanggar.
Orang yang setengah percaya ini biasanya mempercayai
mitos yang hanya dapat diterima oleh logika dan ada buktinya. “Soalnya ada
mitos yang masih gua percaya ada juga
yang engga” kata salah satu informan
kami. Mereka cenderung melihat sejauh mana mitos itu terbukti dalam masyarakat.
Meskipun tidak rasional, mereka mempercayai mitos tersebut apabila telah
terbukti dan mereka mengalaminya dalam kehidupannya. “Gimana ya percaya gak
percaya sih. Percayanya mungkin karna konstruksi denger dari orang-orang, gak
percayanya karna belom ngalamin sendiri”.
Sedangkan
orang yang tidak percaya ini, tidak sepenuhnya menolak gagasan tersebut
meskipun ada yang menolak. Tapi menurut informan saya, mereka percaya karena
memang mendengar dari ajaran orang-orang terdahulu dan mengamini namun tidak
mengaplikasikan dalam kehidupannya. “Soalnya itu tadi masih dipengaruhi
orang-orang tua dulu jadi kebentuk pemikiran kalau mitos itu nyata adanya. Tapi
dari pribadi sendiri gak mempercayai”
ucap salah satu informan kami yang tidak percaya, dia menganggap segala hal
yang terjadi itu sudah takdir.
Mitos sering
kali tidak sejalan dengan pemikiran rasional. Namun, menurut beberapa informan saya beberapa mitos dapat dipikir juga secara rasional bila mau. Mitos dan
pemikiran rasional dapat dikorelasikan, karena beberapa mitos juga memiliki
alasan yang rasional jika ditilik kebelakang. Namun ada juga informan yang
berpendapat lain seperti mitos dan rasional itu memiliki porsi masing-masing
dalam kehidupan, atau mitos dan rasional merupakan dua hal yang salin berbeda.
“Bergantung yang ngartiinnya sih. Menurutku keduanya beda tapi buat jalan
bareng sih masih bisa. Kayak yang kubilang tadi, dua-duanya udah punya porsi
masing-masinh” ucap salah satu informan yang menganggap keduanya merupakan hal yang
berbeda namun dapat dikorelasikan antar satu sama yang lain.
Menurut
salah satu informan yang menganggap keduanya tidak dapat disatukan karena
memang sudah berbeda persepsi dan pandangan antara mitos dan rasioanlitas. “Gak
bisa lah kalau mitos disandingkan sama rasio, lah mitos kan disebarkan melalui
cerita secara turun temurun, kayak masyarakat modern semakin dia mikirnya
rasional ya semakin hilang tuh mitos”. Dia beranggapan bahwa semakin tinggi
rasionalitas seseorang akan melunturkan rasa percayanya terhadap mitos itu
sendiri. Informan membedakan antara mitos dan rasionalitas dan hal tersebut
menurutnya memang tidak dapat disandingkan.
Menurut
pembagiannya ada beberapa alasan mengapa informan masih mempercayai mitos
ditengah pemikirannya yang sudah rasional. Mereka mempercayainya karena memang
lingkungan tempat mereka bertumbuh masih mempercayai mitos itu sendiri. Alasan
ini menjadi alasan yang disebutkan oleh semua informan, baik percaya ataupun
tidak. Semakin tinggi tingkat kepercayaan orang-orang disekitarnya, semakin
tinggi pula rasa percaya pada mitos itu sendiri.
“Kalau aku kenapa masih ada percayanya, soalnya aku besar
di tengah-tengah lingkungan yang masih percaya hal-hal kayak gitu. Menurutku ya
serasional-rasionalnya orang kalau dikonstruksi dengan cara yg tepat
kemungkinan untuk lupa atau berontak itu agak sulit” ucap salah satu informan. “soalnya kan mereka dari kecil udah dicekokin yang namanya mitos-mitos
itu” ucap informan lain sebagai penegas pernyataan ini. Lingkungan memang
menjadi faktor penting dalam membentuk seseeorang, termasuk rasa percaya seseorang
terhadap suatu hal. Kedua informan ini percaya karena mereka memang sudah
dilingkungannya masih mengaplikasikan mitos-mitos tersebut.
“Soalnya
itu tadi masih dipengaruhi orang-orang tua dulu jadi kebentuk pemikiran kalau
mitos itu nyata adanya. Tapi dari pribadi sendiri gak mempercayai”. Namun
meskipun lingkungannya mempercayai tentang mitos, informan ini tidak
sepenuhnya percaya tentang hal-hal yang berbau mitos dan takhayul. “Menurutku
kabeh mitos nggak rasional sih, jadi aku mikire gak pernah rasional lek mitos
haha”. Mereka menganggap segala hal yang berhubungan dengan mitos dan takhayul
itu merupakan suatu hal irasional, jadi meskipun lingkungannya mempercayai
mitos, dia tidak, namun bukan berarti dia menolak adanya mitos dalam kehidupan
Seperti
yang sudah dikelompokkan pada topik yang lainnya, mitos dan takhayul bisa
saja rasional apabila dilihat dari beberapa sisi. Mitos dibuat oleh masyarakat
dengan tujuan tertentu dan pasti memiliki alasan dibaliknya. Biasanya beberapa
mitos juga dibuat karena pengalaman-pengelaman masyarakat terdahulu yang
disebarkan secara turun-temurun melalui lisan pada para keturunannya.
Seberapa
rasional mitos itu sendiri menurut salah satu informan kami tidak dapat
disetarakan karena rasionalitas juga merupakan suatu hal yang relatif. Tingkat
rasionalitas seseorang juga berbeda-beda antara satu orang dengan orang yang
lainnya. Beberapa pernyatan informan di bawah ini akan menjadi penguat penyataan pada topik ini.
Para
informan merupakan mahasiswa dan mahasiswi yang memiliki pemikiran yang
rasional, sedangkan mitos sendiri merupakan hal-hal yang sering berkaitan
dengan sesuatu irasional. Manusia berubah seiring bergantinya jaman, dan mitos
merupakan tolak ukur orang dahulu sebelum memiliki konsep tentang rasional dan
irasional. Semakin lama, manusia semakin hidup dengan pemikirannya yang
rasional, namun mengapa sebagian besar manusia yang rasional masih percaya
konsep mengenai mitos.
Pustaka
Christopher P. Long. 2010. Aristotle on The Nature of Truth. Cambridge: Cambridge University
Press.


Komentar
Posting Komentar